Senin, 17 Desember 2012
DOA JAHATKU
Setiap
cinta punya cerita.
Mungkin
kata itu tepat untuk menggambarkan perasaanku sekarang. Kisah cintaku ini tak
terlalu menyenangkan. Aku kehilangannya, cinta pertamaku, dan sekarang aku
harus ikut bahagia dalam bingkai cintanya bersama yang baru. Ah, dosa apa aku..
Aku
memang belum merelakanmu, masalahkah? Jujur, aku tak pernah melepasmu sepenuh
hati ini. Tapi, aku bisa apa jika kamu sudah ingin melepasku?
Kisah
ini belum usai, rindu ini belum habis.
Ini
kisahku, seorang gadis yang tak terlalu dihujai keberuntungan. Kenalkan kawan,
namaku Cersy, mereka biasa memanggilku Esy. Aku hanyalah gadis biasa berusia
hampir 20 tahun. Tapi postur tubuhku tak terlalu tinggi, jadi banyak yang
mengira aku masih berusia belasan tahun, begitu juga wajahku yang sebenarnya
masih terlalu muda untuk menginjak di usia ini.
Di
usiaku yang hampir 20 tahun ini sebenarnya adalah saat-saat dimana aku harus
mencari seseorang yang akan menjadi imamku kelak dan kali ini aku tak mencari
seorang pacar, melainkan seorang pedamping hidup yang akan membawaku meniti
biduk rumah tangga. Tapi apa daya, seseorang yang ku dambakan tak pernah ku
peluk.
Aku
pernah mencintai seorang pria, dan itu cinta yang pertama. Itu dulu, sekitar 4
tahun yang lalu. Saat aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Pria itu
bernama Yuji, seorang pria imut yang sangat pandai. Ya, Yuji memang sangat
imut. Matanya tak terlalu besar dengan bulu matanya yang sedikit tebal. Alisnya
tipis, tak lupa bibirnya yang begitu mempesona. Ya, semua wanita pasti
mengaguminya. Yuji berada dua tahun di atasku. Aku mengenalinya sejak aku
mengikuti ekstrakulikuler yang sama, yaitu Tata Busana. Ya, Yuji adalah ketua
dari ekskul ini. Tak heran jika setiap harinya, mataku selalu dihiasi oleh
kilau keindahan Yuji, ia selalu pandai berpakaian. Tak pernah sedikitpun ada lecek
menempel di pakaiannya. Yuji begitu bersih, indah dan menawan.
Memilikinya?
Ya, itu mimpiku.
Tapi
tunggu dulu, itu semua tak mimpi. Aku berhasil mendapatkan hatinya, aku
berhasil meraih cinta pertamaku, Yuji. Ah, indahnya saat mengenangmu, Yuji..
***
Yuji
memperhatikanku, ya, mata indah itu. Aku semakin salah tingkah, terlebih saat
ia mendekatiku.
“Kamu Cersy anak 1 IPA A,
kan?” tanyanya dengan ramah.
“I...Iya, Kak, he..he..” aku terbata-bata. Aku benar-benar gugup, Tuhan..
“Hmm, bisa aku bantu merancang busanamu?”
Aku
semakin bingung. Mulutku terasa terkunci, aku benar-benar tak tau harus
bagaimana. Bahkan pensil yang sedari tadi ku pegang dengan tiba-tiba terlepas
begitu saja. Aku hanya mampu mengangguk dan membiarkan Yuji membantuku
merancang busana.
Aku
masih terpaku dengan lekukan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya itu.
Menyaksikan setiap goresan pensil yang ia torehkan di kertas.
“Di bagian ini, mau kamu tambahkan apa? Bunga-bunga atau apa?” tanya Yuji.
Aku
masih diam, memperhatikan matanya. Yuji terlihat bingung dengan kelakuanku yang
aneh ini. Ya, kamu telah berhasil membuatku menjadi sosok yang aneh, Yuji..
“Hei? Esy? Hello?” Yuji menggerak-gerakkan tangannya di depan pandanganku
Aku
tersentak. Aku malu.
“Eh, hmm, iya, Kak, he..he. Ma..af yaa, Kak..” aku terbata-bata
“Kamu kenapa? Kok ngeliatin aku begitu amat?”
Aku
kembali diam dan memperhatikan bola matanya yang sangat indah itu.
“Kak, kok ganteng sih.” Aku spontan mengeluarkan kata-kata itu, karena hanya
itu yang aku
pikirkan.
“Hah? Aku ganteng? Ah, kamu bisa aja sih.” Yuji terlihat malu-malu.
Yuji
diam, aku pun diam. Aku diam menahan malu, bagaimana bisa mulutku mengucap
spontan seperti itu? Ah, itulah cinta...
***
Aku dan
Yuji semakin dekat. Aku rasa, Yuji menyukaiku. Eh kenapa aku begitu
berharap?
Pesan
singkatmu tak pernah lepas dari ingatanku. Kata-kata manismu, selalu terbayang
di setiap ku membuka mata. Aku benar-benar cinta, aku jatuh dalam lautan
cintamu, Yuji..
Aku
menunggumu menyatakan cinta itu. Entah kapan, tapi aku sangat berharap.
Dan saat-saat itu pun tiba.
“Aku menyayangimu, Esy. Sejak pertama aku melihatmu di ekskul itu, aku
benar-benar
tertarik.” Kata-katanya yang
sedari dulu hanya ada di mimpiku.
Aku terdiam
malu. Sore itu seakan menjadi sore yang paling indah seumur hidupku, aku tak
pernah merasakan getaran ini. Aku tak pernah merasakan cinta sebelumnya dan ini
yang pertama kalinya. Dengan rona wajah yang memerah, aku menjawab perkataan
Yuji.
“Aku pun merasakan hal yang sama denganmu.”
“Kita sama-sama mempunyai rasa
itu, Sy. Aku tak mau berlama-lama. Maukah kamu menjadi
kekasihku?”
Deg!
Hatiku terasa di bom sebuah truk yang berisi bunga-bunga yang mewangi.
“Aku mau menjadi kekasihmu, Yuji.”
Yuji
memelukku. Dan kini, aku telah merasakan indahnya cinta pada tatapan pertama,
di lekuk senyumnya.
***
Tapi
semua keindahan itu tak berjalan seusai skenarioku. Yuji memutuskan hubungan
ini ketika ia akan melanjutkan kuliah di Jepang, negara yang terkenal akan
busananya yang trendi.
“Maafkan aku, Sy. Aku gak bisa menolak kemauan kedua orang tuaku.” Katanya
sambil
menangis.
“Tak perlu minta maaf. Aku pun mengerti.” Jawabku yang sok tegar.
“Kalau kita berjodoh, nantinya kita akan bersatu lagi. Kamu cinta pertamaku,
Esy.”
“Ya, kalau berjodoh, kalau tidak?” gumamku dalam hati.
Aku
memang sangat menyayangkan keputusan Yuji untuk memutuskanku dengan alasan yang
seperti ini. Padahal jika rasa saling percaya dan setia itu ditanamkan, jarak
tak akan menjadi masalah. Tapi ya, sudahlah, mungkin memang itu yang terbaik.
Dan kali ini aku tak akan menyalahkan Tuhan.
***
Aku
masih mengingat semua tentang Yuji. Bagaimana bisa aku ,melupakan kisah cinta
pertamaku yang sangat indah dan menyedihkan itu?
Tapi
sayang, sejak ia kuliah di Jepang dan aku lulus dari SMA itu, aku tak pernah
lagi berkomunikasi dengannya. Aku tak tau bagaimana Yuji yang sekarang dan
apakah ia masih mengingat cinta pertamanya? Biarkan Tuhan yang punya rencana
atas semuanya. Dan aku pun harus tetap menjalani hidup tanpa bayang-bayang
Yuji.
Di
saat-saat aku tengah melupakannya, kenapa ia hadir lagi?
***
“Selamat siang, dengan Cersy Collection disini, ada yang bisa
dibantu?”
“Siang. Saya akan merencanakan pernikahan dan kali ini saya akan memakai
jasa Nyonya
Cersy untuk membuatkan
desain baju saya dan calon suami saya.”
“Oh begitu. Silahkan datang ke toko kami, Nyonya. Kami akan menyiapkan semua yang
anda perlukan dalam acara itu.”
“Baiklah, nanti siang, saya akan ke sana.”
“Saya tunggu. Maaf dengan Nyonya siapa saya berbicara?”
“Panggil saja saya Ruhya.”
“Oke, Nyonya Ruhya. Selamat siang.”
Sebuah
job datang lagi dari para pelangganku. Alhamdulillah, usahaku sekarang
berkembang semakin pesat, ditambah lagi dengan bakatku merancang desain
baju-baju pengantin yang sudah sering menjadi trend dikalangan
pasangan-pasangan muda. Aku mengawali usaha ini dengan niatan penuh untuk
sukses.
“Ada job lagi, Mba?” tanya seorang karyawanku. Ya, walaupun aku adalah pemilik
usaha ini,
tapi aku enggan untuk dipanggil ‘bos’ atau sejenisnya.
“Ada lagi nih, Wis. Nanti siang dia akan kesini. Oh, iya gimana dengan desain
yang kemarin?”
“Yang kemarin, Mba? Oh iya, pelanggan sangat menyukai desain itu. Dan beliau
akan
membayar baju rancangan Mba itu.” Jawabnya penuh antusias.
“Syukurlah. Kalau begitu sekarang saya mau kembali ke ruangan saya.”
***
Seusai
makan siang bersama semua karyawanku, kami semua kembali bekerja di bagian
masing-masing. Aku duduk di meja dengan tulisan “DIREKTUR” . Dan kemudian,
sebuah mobil mewah berhenti di parkiran. Dan turunlah seorang wanita yang masih
muda, mungkin seusiaku. Dan aku langsung teringat dengan telepon dari seorang
wanita tadi pagi. Mungkin wanita itu orangnya. Dan beberapa saat kemudian,
keluarlah seorang pria gagah mengenakan jas coklat dengan kacamata yang
menyangkut di tulang hidungnya. Aku mulai mengenali pria itu. Pria itu, Yuji...
Tapi
apa benar itu Yuji?
“Selamat siang, selamat datang di Cersy Collection. Ada perlu apa, Nyonya,
Tuan?”
salah seorang karyawanku memberi salam kepada mereka.
“Saya tadi pagi sudah menelepon kesini dan sudah berjanji akan bertemu dengan
Nyonya
Cersy.” Jawab wanita itu.
“Kalau begitu, Nyonya dan Tuan silahkan menuju meja direktur. Nyonya Cersy
sudah
menunggu.”
Dari
kejauhan, aku masih memperhatikan sosok pria yang ada disamping wanita itu.
Pria itu Yuji, ya aku yakin sekali. Tapi kalau benar itu Yuji, siapa wanita
itu?
Mereka
semakin dekat.
“Nyonya Ruhya, ya?” tanyaku dengan ramah.
“Iya, saya Ruhya dan ini Yuji, calon suami saya.”
Nah!
Benar dugaanku. Dia Yuji, cinta pertamaku. Apakah ia masih mengenaliku? Aku
menatapnya sejenak, ia tersenyum. Ya, aku tau ia mengenaliku.
“Silahkan duduk, Nyonya, Tuan.” Aku mempersilahkan mereka duduk.
Aku
memandang lagi mata indah itu. Mata indah yang sedari dulu aku rindukan. Ingin
rasanya aku menangis saat ini juga. Aku tak habis pikir, kalau sekarang aku
akan merancang busana pernikahan cinta pertamaku. Tuhan, ini benar-benar diluar
logikaku..
“Maaf, saya mau ke toilet sebentar.” Aku pun meninggalkan mereka dan langsung
menuju
kamar mandi.
Yuji
memperhatikan mataku, dan mungkin ia tau aku akan menangis sekencang-kencangnya
di dalam toilet.
Air
mataku menetes. Wisnu dan beberapa karyawan lainnya mendekatiku dan menanyakan
keadaanku.
“Mba, kenapa? Kok nangis?”
“Aku gak kenapa-kenapa.” Jawabku lemas dan berlalu menuju kamar mandi.
Sonaya
mengikutiku.
“Kamu kenapa, Sy? Ada apa?” tanyanya sambil membelai rambutku.
“Kamu lihat pasangan tadi?”
“Iya, lalu?”
“Pria itu, cinta pertamaku, dia Yuji! Yuji yang selalu ku ceritakan kepadamu.”
“Kalau begitu wanita itu adalah calon istrinya Yuji?”
“Iya! Dan mereka akan menikah, lalu aku? Aku harus merancang busana untuk
mereka!”
“Sabar, Esy. Aku tau kamu kuat.”
“Aku gak kuat, aku harus gimana. Aku masih ingat semua tentang Yuji.”
Sonaya
memelukku erat.
“Aku tau semuanya berat. Tapi coba lalui ini dengan doa dan niat.”
Mendengar
itu. Aku langsung berdoa supaya Tuhan memberikanku kekuatan yang lebih untuk
melalui semuanya.
Aku pun
keluar dari kamar mandi dan menyiapkan hatiku lagi untuk mendengarkan semua
keinginan Yuji dan Ruhya..
“Maaf ya lama, hehe.” Kataku kepada Yuji dan Ruhya.
“Iya, gak apa-apa. Oh, iya, enaknya saya panggil kamu apa ya?” tanya Ruhya.
“Panggil saja Esy.” Celetuk Yuji.
Aku
tersentak lagi. Astaga, ternyata benar, Yuji masih mengingatku dan mengingat
nama panggilanku itu. Bahagia namun sedih mendengarnya.
“Ya, memang itu nama panggilan saya.
Kalau begitu konsep apa yang kalian inginkan untuk
pernikahan itu?” tanyaku menahan
sesak.
“Aku
keluar ya. Bilang saja yang tadi malam aku bilang ke kamu sekarang kamu yang
urus semuanya, perutku gak beres nih.” Suara Yuji di
telinga calon istrinya.
Aku tak
tau kenapa Yuji keluar dan membiarkan Ruhya mengurusi semua konsep
pernikahannya. Aku dan Ruhya saling bercerita satu sama lain. Ternyata Ruhya
bertemu Yuji ketika di Jepang. Mereka kuliah di satu universitas yang sama. Dan
kini mereka akan menikah. Betapa beruntungnya Ruhya...
Ingin
rasanya air mata ini menetes lagi, mendengar semua cerita bahagia dari mulut
Ruhya. Andai dia tau kalau aku adalah cinta pertamanya Yuji..
Malamnya,
aku telah merancang sebuah busana pengantin untuk Yuji dan Ruhya. Sangat
menawan, dan awal dari konsep ini adalah ida dari Yuji, cinta pertamaku.
***
Pernikahan
mereka berlangsung hari ini. Aku di minta Ruhya untuk datang, enggan
sebenarnya. Tapi, ya, tak apalah. Aku ingin melihat senyum bahagia dari cinta
pertamaku..
Yuji
sangat tampan dengan busananya. Begitu juga Ruhya yang sangat anggun. Mereka
berdua nampak serasi dan aku tak mampu membayangkan betapa bahagianya Ruhya
saat itu. Kenapa bukan aku yang ada di sampingmu saat ini, Yuji..
Di
sela-sela acara, Yuji sempat menghampiriku.
“Terimakasih, Esy.”
Kenapa
harus ‘terimakasih’ yang ku dengar darimu. Kenapa bukan ‘aku masih
menyayangimu sampai detik ini.’ ya, aku hanya bermimpi untuk mendapatkan
perkataannya yang seperti itu.
“Terimakasih? Untuk apa?”
“Untuk rancangan busana aku dan Ruhya.”
“Itu sudah menjadi pekerjaanku. Yuji, bolehkah aku berbicara sebentar
denganmu?”
“Boleh. Bicara apa?”
Aku
berjalan menuju tempat yang tak terlalu ramai, di sisi gedung. Ingin rasanya
aku berbicara kalau aku masih menyayanginya dan aku masih menunggunya untuk
kembali merangkul bahagia yang seharusnya ku genggam. Tapi bibirku terasa beku,
aku tak mampu mengatakan semua kejujuran itu. Dan keluarlah perkataan yang sama
sekali bukan kejujuranku.
“Selamat menempuh hidup baru bersama Ruhya. Semoga berbahagia selalu.”
“Hanya itu yang ingin kamu katakan? Aku pikir ada yang lebih penting.”
“Ya, hanya itu.”
Aku pun
meninggalkan Yuji. Dan kembali menikmati hidangan di pesta ini. Yuji
menghampiri istrinya, Ruhya. Mereka bergandengan menghampiri para tamu
undangan. Yuji sempat menoleh kepadaku, ia tersenyum. Ah, senyuman itu, tak
pernah berubah dan luntur pun enggan mendekati senyum itu.
Dalam
hati, aku berdoa, mungkin ini doa terjahat yang pernah ku serahkan kepadamu,
Tuhan.
“Tuhan, maafkan aku, aku masih belum rela, aku masih belum melepasnya. Cinta ini terlalu dalam, tolong jangan buat mereka bahagia selamanya."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar